Jumat, 27 Mei 2016

Informasi Mengenai Adiwiyata


A. Gambaran Umum Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Indonesia.
Pada awalnya penyelenggaraan PLH di Indonesia dilakukan oleh Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta pada tahun 1975. Pada tahun 1977/1978 rintisan Garisgaris Besar Program Pengajaran Lingkungan Hidup diujicobakan di 15 Sekolah Dasar Jakarta. Pada tahun 1979 di bawah koordinasi Kantor Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Meneg PPLH) dibentuk Pusat Studi Lingkungan (PSL) di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, dimana pendidikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL mulai dikembangkan). Sampai tahun 2010, jumlah PSL yang menjadi Anggota Badan Koordinasi Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) telah berkembang menjadi 101 PSL. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departeman Pendidikan Nasional (Ditjen Dikdasmen Depdiknas), menetapkan bahwa penyampaian mata ajar tentang kependudukan dan lingkungan hidup secara integratif dituangkan dalam kurikulum tahun 1984 dengan memasukan materi kependudukan dan lingkungan hidup ke dalam semua mata pelajaran pada tingkat menengah umum dan kejuruan. Tahun 1989/1990 hingga 2007, Ditjen Dikdasmen Depdiknas, melalui Proyek Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) melaksanakan program Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup; sedangkan Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL) mulai dikembangkan pada tahun 2003 di 120 sekolah. Sampai dengan berakhirnya tahun 2007, proyek PKLH telah berhasil mengembangkan SBL di 470 sekolah, 4 Lembaga Penjamin Mutu (LPMP) dan 2 Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG).

Minggu, 03 April 2016

The U.S. Workforce from 1960 to 2010:A RIASEC View



Mary-Catherine McClain Robert C. Reardon

In this article, the authors analyze ways of categorizing civilian occupations and employment data collected by the U.S. Census Bureau over 6 decades (1960–2010) with respect to six kinds of work (Holland’s RIASEC classification), occupational titles used, employment and income. O*NET provided data for the 2010 census
regarding employment and income. The authors discuss the distribution of employment changes over time and the examination of findings in relation to science, technology, engineering and mathematics fields. The article concludes with practical implications for counseling and guidance practice.
Keywords: Holland, RIASEC, census, employment, occupations, income

Jumat, 01 April 2016

Kejaksaan Tinggi Periksa 218 Kepsek Gowa


BugisPos Sebanyak 218 Kepala Sekolah, SD, SMP dan SMA yang tersebar di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan diperiksa. Pemeriksaan itu terkait dugaan tindak pidana korupsi dana pendidikan gratis di lingkup pemerintah Gowa yang telah merugikan negara senilai Rp 4,4 miliar.
“Semua yang diperiksa adalah kepala sekolah, pemeriksaan dilakukan dengan menyebar pertanyaan. Pemeriksaan ini pun baru babak awal,” kata Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel, Chaerul Amir menambahkan, dugaan korupsi dana pendidikan gratis di Kabupaten Gowa.
Chaerul menambahkan, dari hasil pemeriksaan sementara terhadap ratuasan kepsek di Gowa, dugaan tindak pidana korupsi pada pendidikan gratis diduga terjadi di honor kepala sekolah, honor guru, belanja ujian siswa, serta belanja cetak LKS siswa.

Sejumlah Kepsek di Gowa Terkesan “Bermain”


Terindikasi Proyek DAK Ajang Cari Untung
proyek pembangunan gedung dalam anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) yang di peruntukkan untuk pembangunan sekolah  sekolah menengah petama (SMP) sekolah menengah atas (SMA) yang berada di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan, menuai banyak kendala. Pasalnya, proyek tesebut tidak dapat menunjukan gambar perencanaan bangunan sebagai  dasar dan petunjuk juknis melaksanakan Proyek bangunan.
Proyek yang di keluarkan oleh dinas Pendidikan dan olah raga yang melibatkan ratusan sekolah yang berada di Kabupaten Gowa ini terindikasi marak dimainkan untuk meraup keuntungan, dengan berbagai macam modus, dimana modus yang kerap dilakukan adalah menyembunyikan gambar terlebih RAB untuk melakukan penyimpangan dan tak sedikit memakai modus system setoran agar mudah lepas dari tanggung jawab.
Saat di telusuri banyaknya bangunan sekolah yang saat ini mendapat bantuan dari pemerintah apakah itu rehabitalasi atau renovasi kelas maupun Ruang Kelas Baru (RKB), apalagi saat perubahan bangunan maupun gedung tidak memiliki Izin Mendirikan Banguan (IMB).

Selasa, 15 Maret 2016

INFORMASI TENTANG JENIS-JENIS LAPANGAN KERJA


Di bawah ini dikemukakan jenis-jenis lapangan kerja yang dikutip berdasakan Buku Klasifikasi Jabatan Indonesia (KJI), oleh Departemen Tenaga Kerja dan Biro Pusat Statistik, Revisi 1982, dan Buku Penuntun Jabatan, Departemen Tenaga Kerja, (1984/1984), menyebutkan jenis lapangan kerja yang ada di Indonesia yang dapat mengisi jabatan-jabatan atau tenaga kerja. Tenaga kerja yang diperlukan itu dapat bekerja pada orang lain, bekerja sama dengan orang lain, atau bekerja berdikari, diantaranya:
1.       Lapangan kerja pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan.
a.        Operator mesin pertanian
b.       Pemeliharaan pertanian dan perkebunan
c.        Penebang pohon
d.       Pengangkut kayu
e.       Penyadapan getah
f.         Nelayan
g.        Ahli pertanian
h.       Ahli peternakan
i.         Ahli perikanan
j.         Ahli kehutanan
k.        Penyuluh pertanian
l.         Petani
       Peternak
Lapangan kerja pertambangan dan pengolahan logam

Sabtu, 12 September 2015

Pengaduan Masyarakat KPK

Mengenai Pengaduan Masyarakat



Banyak orang bertanya-tanya bagaimana KPK bisa menangkap tangan praktk suap/pemerasan, atau dari mana KPK bisa mengendus korupsi ketka belum terjadi. Apakah KPK punya ribuan kamera yang memantau seluruh pejabat di negeri ini setiap hari? Atau, ada jutaan mikrofon yang menguping percakapan setap proses pengadaan di seluruh daerah?
Keberhasilan KPK dalam menangkap koruptor ternyata merupakan hasil dari peran serta dan kepedulian masyarakat dalam melaporkan kasus korupsi. KPK sangat mengharapkan peran serta masyarakat untuk memberikan akses informasi ataupun laporan adanya dugaan tndak pidana korupsi (TPK) yang terjadi di sekitarnya. Informasi yang valid disertai bukti pendukung yang kuat akan sangat membantu KPK dalam menuntaskan sebuah perkara korupsi. 
BENTUK-BENTUK KORUPSI

Kamis, 17 Mei 2012

Penggunaan Metafora Sebagai Bentuk Kreativitas Dalam Konseling


Penggunaan Metafora Sebagai Bentuk Kreativitas Dalam Konseling
Oleh,
Ahmad Ali Rahmadian

Metafora pada umumnya didefinisikan sebagai transfer makna dari suatu elemen ke elemen lain (Robert & Kelly, 2010). Metafora merupakan upaya untuk mendeskripsikan suatu ide atau persoalan secara konkrit, sehingga lebih mudah untuk dipahami. Proses konseling yang bertujuan memahami worldview konseli, serta membantu konseli dalam memahami dan memecahkan masalah konseli yang sesungguhnya, melibatkan banyak terminologi dan situasi abstrak yang terkadang sulit untuk dipahami. 
Penggunaan metafora secara kreatif dalam sesi konseling akan membantu konseli dan konselor untuk memahami persoalan yang dihadapi serta mengembangkan solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Dengan demikian, metafora bermanfaat dalam membantu klien untuk mengkonseptualisasikan permasalahan yang konseli hadapi serta memfasilitasi kolaborasi konselor-konseli dalam menentukan intervensi yang tepat (Robert & Kelly, 2010). Penggunaan metafora dalam konseling juga berperan dalam memfasilitasi dan membangun struktur komunikasi antara konselor-konseli, serta secara signifikan dapat memfasilitasi perubahan perspektif konseli ( Hundley & Casado-Kehoe, 2007; Babits, 2001; Chesley, Gillett, Wagner, 2008). Terdapat beragam riset yang menunjukkan manfaat metafora dalam meningkatkan efektivitas komunikasi dan penciptaan makna dalam konseling (Lyddon, Clay, & Sparks, 2001).

Kamis, 22 Maret 2012

TEKNIK BELAJAR IMAJINASI


Patta Raden, S.Pd, M.Pd
Koordinator BK SMP. Negeri 1 Pallangga Kab. Gowa
 

“Belajar” kata belajar sering kita dengar baik di lingkungan keluarga, maupun di dalam percakapan orang dewasa di dalam masyarakat, terlebih lagi di suatu institusi pendidikan, sering kita mendengar seorang Ayah atau Ibu menganjurkan kepada anaknya agar belajar di rumah, jangan terlalu banyak bermain, dalam konteks ini yang dimaksud orang tua adalah membaca buku, benar adanya membaca buku adalah salah satu teknik belajar, yang sering digunakan oleh seorang pelajar apabila dia belajar seorang diri.
Sebelum kita membicarakan mengenai teknik belajar lebih jauh ada baiknya kita mengutif pendapat H.Spear, mengenai definisi belajar:

Jumat, 20 Januari 2012

Sekolah Jangan Sembunyikan Data Dana BOS


JAKARTA--Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh mengingatkan kepada seluruh pemerintah daerah, kepala dinas, dan kepala sekolah untuk tidak melakukan penyimpangan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Menurut Nuh, selama ini tindakan penyimpangan dana BOS ini masih kerap ditemukan di beberapa daerah.

"Tolong program-program sekolah sesuai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) ditempelkan di papan pengumuman sekolah. Sehingga,  peserta didik dan orang tua bisa melihat program sekolah. Mohon dikoordinasikan dengan komite sekolah," terang Nuh di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Senin (16/1).

Dengan begitu, lanjut Nuh, terjadi keterbukaan informasi dari sekolah kapada seluruh masyarakat. Bahkan, masyarakat juga dapat menghitung dan mengetahui berapa besaran operasional sekolah yang dikeluarkan oleh sekolah dari pemanfaatan dana BOS. "Selama ini memang masih ada sekolah yang belum terbuka kepada masyarakat khususnya orang tua murid mengenai pemanfaatan dana BOS ini," imbuhnya.

Mantan Rektor ITS ini menjelaskan, dana BOS disalurkan setiap triwulan selama setahun. Anggaran dana BOS pada tahun ini mengalami kenaikan sebanyak 40 persen dari Rp 16 triliun pada tahun lalu menjadi Rp 23,6 triliun pada tahun ini.

Adapun satuan biaya per siswa per tahun untuk jenjang sekolah dasar naik dari Rp 397 ribu pada tahun lalu menjadi Rp 580 ribu pada tahun ini. Sementara satuan biaya per siswa per tahun untuk jenjang sekolah menengah pertama naik dari Rp 570 ribu pada tahun lalu menjadi Rp 710 ribu pada tahun ini. (cha/jpnn

Selasa, 18 Oktober 2011

MENJADI GURU BERMUTU


Situs ini diharap menstimulasikan diskusi mengenai Metodologi Pelatihan Guru

Semoga Sukses Ikatan Guru Indonesia (IGI) dari Pendidikan.Network. Semoga Bersama Kita Dapat Menuju Guru dan Pendidikan Yang Bermutu dan Mencapaikan Tujuan Bangsa Yang Cerdas.

Kami di Pendidikan.Network ingin membantu mengimplementasikan program pendidikan bermutu (dari KemDikNas)"Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)," secara nasional. PAKEM sudah terbukti berhasil di ribuan sekolah di Indonesia tetapi sampai sekarang hanya dilaksanakan secara efektif di sebagian kecil sekolah kita karena jumlah SDM yang diperlui untuk melaksanakan pelatihan secara langsung di hampir 300.000 sekolah tidak terjangkau. Beberapa tantangan lagi adalah guru-guru kurang mengerti keuntungan dari prosesnya karena banyak guru sendiri kelihatannya belum mengalami pembelajaran-aktif maupun kontekstual waktu mereka belajar, jadi niat guru untuk merubah kelihatannya adalah rendah, sama rendah dengan kemampuan mereka untuk melaksanakan pembelajaran-aktif.

Cara kami untuk membantu melaksanakan perkembangan mutu pendidikan adalah oleh nemberdayakan guru-guru di lapangan dengan informasi yang tepat dan dapat dimanfaatkan secara langsung.

Program kami untuk meningkatkan mutu guru adalah berbasis keadaan di lapangan (dapat mulai di semua sekolah di seluruh daerah sekarang) maupun menggunakan strategi-strategi yang memengarah ke Guru Yang Profesional, yaitu Guru Yang Mau Bertanggungjawab dan Aktif untuk Meningkatkan Kemampuan dan Profesionalisme Sendiri (Guru Yang Dapat Mandiri - Meningkatkan Profesionalisme Secara Swadaya)Kalau guru kita tidak dapat mandiri, bagaimana kita dapat berharap pelajar kita dapat mandiri?

Di Indonesia kita mendorong konsep "Life-Long Learning", Apakah Guru Sendiri Tidak Dapat Belajar Secara Mandiri? Apakah ini masalah dengan mutu guru kita, atau masalah yang diulangkan terus karena mind-set dan paradigma Pelatih Guru kita? Siapa yang paling beruntung dari kegiatan-kegiatan pelatihan guru? Kalau kita menuju guru kreatif dan profesional, pelatih-pelatih guru kita juga harus sangat profesional (menganalisa dan mencari solusi-solusi yang lebih baik dan profesional) Mengapa kita terus melanjutkan strtategi-strategi yang gagal dan tidak mungkin dapat dilaksanakan secara rutinitas untuk semua guru kita?


Kami sudah menyaksikan bahwa pelatihan yang dilaksanakan di luar sekoloah (yang tidak mengkaitkan semua stakeholders) terus gagal karena itu kebudayaan sekolah yang seringkali menggagalakan rencana untuk perubahanMenggunakan ICT dan Internet untuk pembelajaran secara nasional tidak rialistik, kan?, maupun mengancam mutu pendidikan kita, kan?. Internet sendiri dapat menambah tantangan dan tidak efektif menghadapi isu-isu penting terkait Pelajar Yang Cerdas, kan? Maupun kayaknya "Facebook Sebabkan Mahasiswa Malas dan Bodoh". Bagaimana Dengan Siswa-Siswi Sekolah?.

Website kami sebagai sumber informasi untuk membantu meningkatan pengertian terhadap isu-isu perkembangan guru, juga downloads kami sebagai salah satu strategi untuk menyampaikan bahan pembelajaran ke Guru Pembina Perkembangan Sekolah (guru yang sudah cukup berpengalaman dengan Pembelajaran-Aktif). Kita tidak menggunakan ICT dalam proses pembelajaran karena proses meningkatkan mutu guru perlu pembelajaran-aktif, yang hanya dapat dilaksanakan oleh guru. Bahan kami dimanfaatkan oleh guru pembina untuk melaksanakan program perkembangan mutu pendidikan dengan semua guru yang mau berpartisipasi. Untuk sekolah yang belum dapat mengakses Internet (atau belum ada listrik :-) bahan-bahan dapat disampaikan lewat pos biasa.

Teknologi Canggih Hanya Sebagai Distraksi Dari Isu Yang Betul Penting - Metodologi!

Kami mendukung Program Peningkatan Mutu Berbasis-Sekolah yang sangat Rialistik, Terjangkau dan Menuju Profesionalisme (Perkembangan Mutu Tanpa Batas).
Dengan strategi begini kita dapat memanfaatkan teknologi secara efisien dan efektif, dan tidakmengancam kreativitas yang terkait dengan metodologi e-Learning atau Multi-Media-Based Learning, maupun tidak membuang waktu guru, guru-nya tidak terpaksa mengakses atau mendownload bahan secara masing-masing (atau belajar online)Metodologi ini juga sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran aktif (Di-Implementasikan Secara Aktif).

Di Indonesia, pada umum, kita sudah lama mengutamakan pengetahuan, yang dipercaya adalah indikator kecerdasan bangsa. Tetapi selama beberapa tahun terakhir ini kami sudah terpaksa menghadapi beberapa isu yang mengancam perkembangan negara kita termasuk Jumlah Pengangguran, Lulusan Kita Kurang Kreatif, Inovatif, dan Tidal dapat Mandiri, dan isu-isu seperti Moral dan Karakter Bangsa - yang hanya dapat diatasi oleh pendidikan yang Holistik, Relevan dan Berarti.

Kita sudah membaca banyak informasi dari luar negeri mengenai konsep "Knowledge-Based" Society yang diterjemahkan menjadi Society "yang Berbasis-Pengetahuan". Tetapi pengetahuan saja, tanpa pikiran kritis, kemampuan analisis, sintesis, inovasi, dan kreativitas, dll. yang dikembangkan oleh pendidikan yang bermutu jelas tidak dapat mencapaikan bangsa yang cerdas.

Kita kayaknya tidak memperhatikan faktor utama di negara-negara lain yang mendukung konsep "Knowledge-Based Society", yaitu, mereka terus melaksanakan metodologi pembelajaran yang mengajak dan mengembangkan bangsa yang cerdas dan mampu menggunakan "knowledge" secara efektif, yaitu "Pembelajaran-Aktif dan Kontekstual" (PAKEM), yang adalah fondasi perkembangan SDM (manusia yang berkualitas, yang diberdayakan oleh pendidikan yang "Holistik dan Relevan").

Kita sudah puluhan tahun menyaksikan bahwa program-program berbasis pelatihan guru di luar sekolah-nya gagal meningkatkan kemampuan guru secara signifikan (sampai mutu pendidikan kita sudah menjadi krisis). Mengapa begini? Isu utama adalah motivasi guru untuk ikut program-program pelatihan begini (pada umum) adalah ekstrinsik (misalnya tinggal di hotel mewah, makanan disediakan, juga insentif eksrinsik yang lain-lain)bukan motivasi yang intrinsik yang mengutamakan profesionalismeJuga seringkali guru-guru yang ikut kegiatan di luar sekolah bukan guru yang terbaik atau mampu utuk mengimplementsikan perubahan (Change) dan gagal.

Isu kedua adalah kebudayaan di sekolah guru-nya sendiri yang seringkali tidak mendukung perubahan (kemajuan), jadi setelah program pelatihan sudah selesai mereka kembali ke sekolahnya dan terus melaksanakan pembelajaran sesuai kebudayaan sekolah (tanpa kemajuan).

Kami sangat mengerti bahwa "kita dapat mengantar kuda ke sungai, tetapi kita tidak dapat memaksakan kuda-nya minum". Jadi supaya kita adalah hemat dan efisien anggaran dan SDM kita, kita akan terfokus kepada sekolah-sekolah yang ingin mengarah keSekolah Berstatus "Sekolah Berkualitas".

Dan karena tantangan yang sangat penting seringkali adalah kebudayaan sekolah yang melawan perubahan, kita juga meminta persetujuan dan dukungan oleh Kepala Sekolah di sekolah masing-masing sebelum kita akan membagi SDM ke sekolah-sekolah.

Semua guru di seluruh Indonesia dapat ikut melaksanakan program kami karena program kami adalah Berbasis-Swadaya, program-nya berlangkah-langkah (sederhana), dan dapat diakses oleh Internet di warnet saja atau dapat dikirim lewat pos. Tetapi kami tidak dapat menjaminkan bantuan oleh SDM kami kepada sekolah yang tidak memberi komitmen bahwa mereka ingin maju dan siap merubah.

Kami adalah sangat konsern dengan perkembangan SDM bangsa kita dan kemajuan negaradan kepercayaan kami sangat didukung oleh saran Wakil Menteri Pendidikan Nasional Profesor Fasli Jalal....
Guru Masih Terlalu Dominan di Kelas
"JAKARTA, KOMPAS.com - Proses belajar-mengajar di sekolah kerap membosankan dan tidak menyenangkan karena guru yang terlalu dominan di ruang kelas.

"Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa." -- Fasli Jalal

"Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa," kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam diskusi panel Pendidikan Profesi Guru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Sabtu (4/12/2010)"

Apakah kita mungkin dapat berharap anak-anak kita akan Aktif (maupun Pro-Aktif), Kreatif, dan Mampu Berkontribusi Kepada Perkembangan Indonesia dengan Pembelajaran-Pasif?
Tujuan Situs Metodologi.Com
(Situs Perkembangan Profesional Secara Swadaya)

Kunci-nya untuk mencapaikan mutu pendidikan yang Tingkat Dunia adalah
Pembelajaran-Aktif (Student-Centred) dan Kontekstual.

 

Kami Sedang (dalam proses) Menulis Isi-nya Untuk Sektor Pendidikan Masing-masing.

PAUDSDSMPSMASMKPT
Pendidikan Berbasis-Pendidikan
Bukan Berbasis-Ilusi



Ini Situs Guru BerkualitasPerpustakaan : Jantung Pembelajaran
Tujuan PendidikanKurikulumMetodologi & Strategi
Aman & Nyaman : Suasana KondusivePeraga & Teknologi Pendidikan



Berita IGI

Isinya Situs Ini Dibuat Oleh Phillip Rekdale (Pendidikan Network).
Situs ini tidak terkait dengan Organisasi IGI

Sabtu, 06 Agustus 2011

10 Aspek Degradasi Moral dan 11 Prinsip Pendidikan Karakter

AKHMAD SUDRAJAT

Menurut Thomas Lickona (Sutawi, 2010), ada 10 aspek degradasi moral yang melanda suatu negara yang merupakan tanda-tanda kehancuran suatu bangsa.
Degradasi Moral dan Prinsip Pendidikan Karater
Kesepuluh tanda tersebut adalah:
  1. meningkatnya kekerasan pada remaja
  2. penggunaan kata-kata yang memburuk
  3. pengaruh peer group (rekan kelompok) yang kuat dalam tindak kekerasan
  4. meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas
  5. kaburnya batasan moral baik-buruk,
  6. menurunnya etos kerja
  7. rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru
  8. rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara
  9. membudayanya ketidakjujuran
  10. adanya saling curiga dan kebencian di antara sesama.
Meski dengan intensitas yang berbeda-beda, masing-masing dari  kesepuluh tanda tersebut tampaknya sedang menghinggapi negeri ini. Dari kesepuluh tanda-tanda tersebut, saya melihat aspek yang kesembilan yakni membudayanya ketidakjujuran tampaknya  menjadi persoalan serius di negeri ini. Kejujuran seolah-olah telah manjadi barang langka.
Atas dasar  itulah maka  pendidikan karakter menjadi amat penting. Pendidikan karakter menjadi tumpuan harapan bagi terselamatkanya bangsa dan negeri ini dari jurang kehancuran yang lebih dalam.
Meski hingga saat ini belum ada rumusan tunggal tentang pendidikan karakter yang efektif, tetapi barangkali tidak ada salahnya jika kita mengikuti nasihat  dari Character Education Partnership bahwa untuk dapat mengimplementasikan program pendidikan karakter yang efektif, seyogyanya memenuhi beberapa prinsip berikut ini:
  1. Komunitas sekolah mengembangkan dan meningkatkan nilai-nilai inti etika dan kinerja sebagai landasan karakter yang baik.
  2. Sekolah berusaha mendefinisikan “karakter” secara komprehensif,  di dalamnya  mencakup berpikir (thinking), merasa (feeling), dan melakukan (doing).
  3. Sekolah menggunakan pendekatan yang komprehensif, intensif, dan proaktif dalam  pengembangan karakter.
  4. Sekolah menciptakan sebuah komunitas yang memiliki kepedulian tinggi.(caring)
  5. Sekolah menyediakan kesempatan yang luas bagi para siswanya untuk melakukan berbagai tindakan moral (moral action).
  6. Sekolah menyediakan kurikulum akademik yang bermakna dan menantang, dapat menghargai dan menghormati seluruh  peserta didik, mengembangkan karakter mereka, dan berusaha membantu mereka untuk meraih berbagai kesuksesan.
  7. Sekolah mendorong siswa untuk memiliki motivasi diri  yang kuat
  8. Staf sekolah ( kepala sekolah, guru dan TU) adalah sebuah komunitas belajar etis yang senantiasa  berbagi tanggung jawab dan mematuhi nilai-nilai inti yang telah disepakati. Mereka menjadi  sosok teladan bagi para siswa.
  9. Sekolah mendorong kepemimpinan bersama yang memberikan dukungan penuh terhadap gagasan  pendidikan karakter dalam jangka panjang.
  10. Sekolah melibatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter
  11. Secara teratur, sekolah melakukan asesmen  terhadap budaya dan iklim sekolah, keberfungsian para staf sebagai pendidik karakter di sekolah, dan sejauh mana siswa  dapat mewujudkan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Berkaitan dengan pengembangan dan peningkatan nilai-nilai inti etika di sekolah, tentusaya gembira jika sekolah-sekolah kita dapat menempatkan kejujuran sebagai prioritas utama dalam pengembangan program pendidikan karakter di sekolah. Gordon Allport menyebutkan bahwa kejujuran adalah mahkota tertinggi dari sistem kepribadian individu. Jadi. sehebat apapun kepribadian seseorang jika di dalamnya tidak ada kejujuran, maka tetap saja  dia hidup tanpa mahkota, bahkan mungkin justru dia  bisa menjadi manusia yang berbahaya dan membahayakan.

Kamis, 07 Juli 2011

detikNews : Guru SMP Negeri di Sungguminasa Tewas di Panti Pijat

detikNews : Guru SMP Negeri di Sungguminasa Tewas di Panti Pijat 
Muhammad Nur Abdurrahman - detikNews
Makassar - Seorang guru SMP Negeri di Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, berinisial RU (48 tahun), tewas di sebuah panti pijat, di Jalan Pengayoman, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (7/7/2011) siang. Menurut saksi mata di lokasi, RU datang ke panti pijat sejak pukul 10.00 Wita dan mencari salah satu pemijat langganannya yang bernama Rini.

Saat menunggu Rini itulah, RU tiba-tiba kejang dan terjatuh pingsan. Mulut RU juga mengeluarkan busa berwarna putih. Melihat RU terjatuh, pegawai panti pijat pun memanggil petugas dari Polsek Panakukang yang kantornya tidak jauh dari lokasi kejadian.

Saat aparat tiba, nyawa guru SMP yang sedang menikmati liburan panjang sekolahnya ternyata sudah tidak tertolong lagi. Polisi pun membawa jenazah RU ke rumah sakit Bhayangkara, di jalan Mappaoddang, untuk diotopsi.

Kapolsek Panakukang Kompol Muhammad Nur Akbar yang ditemui wartawan di kantornya menyebutkan, korban diduga tewas karena serangan jantung akibat kelebihan dosis obat kuat yang dikonsumsi korban sebelum meninggal dunia.

"Selain jenazah RU yang diotopsi di RS Bhayangkara, kami juga memeriksa perempuan bernama Rini yang diduga merupakan pasangan kencan korban," pungkas Akbar.

(mna/nwk)

Rabu, 29 Juni 2011

Contoh KTSP Program Bimbingan Konseling

KTSP Program Bimbingan Konseling
Posted by: Eko Susanto on: August 22, 2008
In: Bimbingan Comment!
Sumber SMA Negeri 7 Jogja (Guru Pembimbing Pak Bandono)
Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikan, mengamanatkan bahwa setiap satuan pendidikan harus menyusun kurikulum yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP.
Pada penerapan KTSP, Guru Bimbingan Konseling di sekolah memberikan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam memfasilitasi “Pengembangan Diri” siswa sesuai minat , bakat serta mempertimbangkan tahapan tugas perkembangannya. Mengingat adanya keberagaman individu siswa maupun keberagaman kemampuan Guru Bimbingan Konseling di sekolah maka perlu ditegaskan bahwa pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah harus menyusun program guna mengakomodasi Undang-undang nomor 20 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tersebut beserta peraturan-peraturan yang menyertainya.
Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang didalamnya memuat struktur kurikulum, telah mempertajam perlunya disusun dan dilaksanakannya program pengembangan diri yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga pendidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi, kehidupan social, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
Bimbingan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok, agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, social, belajar dan karir, melalui berbagai jenis pelayanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistemik dalam memfasilitasi individu mencapai perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku efektif, pengembangan lingkungan perkembangan, dan peningkatan keberfungsian individu dalam lingkungannya. Semua perilaku tersebut merupanan proses perkembangan yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan. Pengampu bimbingan dan konseling adalah guru bimbingan dan konseling atau konselor yang merupakan salah satu kualifikasi pendidik.
Dalam permendiknas Nomor 23 tahun 2006 dirumuskan SKL yang harus dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran bidang studi, maka kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah kompetensi kemandirian untuk mewujudkan diri (self actualization) dan pengembangan kapasitasnya (capacity development) yag dapat mendukung pencapaian kompetensi lulusan. Sebaliknya, kesuksesan peserta didik dalam mencapai SKL akan secara signifikan menunjang terwujudnya pengembangan kemandirian.
Visi Dan Misi
Pengembangan Diri
Visi Program Pengembangan Diri
Terwujudnya peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab dalam mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangannya.
Misi Program Pengembangan Diri
Memfasilitasi peserta didik dengan kegiatan-kegiatan yang memberi wadah penyaluran agar potensi, bakat dan minatnya berkembang sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan perkembangannya.
SMA Negeri 7 Yogyakarta
Visi
Membentuk peserta didik menjadi insan yang cerdas, terampil, sehat jasmani dan rohani, berbudaya, dan memiliki wawasan kewirausahaan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
Misi
Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan melalui bimbingan dan kegiatan keagamaan
Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik melalui kegiatan peningkatan mutu pembelajaran dan sarana pembelajaran
Meningkatkan kreativitas peserta didik melalui kegiatan pengembangan potensi diri
Meningkatkan keterampilan dan Apresiasi peserta didik dibidang Ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, budaya dan seni melalui Construktivisme Learning dan interaksi global
Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani melalui bimbingan dan kegiatan olah raga dan keagamaan
Meningkatkan jiwa kewirausahaan melalui Pembinaan Kewirausahaan dan Kegiatan Pengembangan Wawasan Khusus.
Meningkatkan dan mengembangkan efisiensi pembelajaran baik secara lokal, nasional maupun Internasional
Meningkatkan layanan informasi pendidikan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi
Diskripsi Kebutuhan Siswa (9 Tugas Pokok Perkembangan Siswa)
Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mencapai kematangan dalam hubungan dengan teman sebaya, serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita.
Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat.
Mengembangkan penguasaan ilmu teknologi dan seni sesuai dengan program kurikulum dan persiapan parir atau melanjutkan Pendidikan Tinggi
Mencapai kematangan dalam pilihan karir
Mencapai kematangan gambar dan sikap tentang kehidupan mandiri, secara emocional, social, intelectual dan ekonomi.
Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Mengembangkan kemampuan berkomunikasi social dan intelectual serta apresiasi seni.
Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.
Bidang Bimbingan Dan Konseling
a. Bidang Bimbingan Pribadi adalah bidang bimbingan yang meliputi pemantapan keimanan, porensi diri, bakat, minat pemahaman kelemahan diri, kemampuan pengambilan keputusan sehingga dapat merencanakan kehidupan yang sehat.
b. Bidang Bimbingan Sosial adalah bidang yang meliputi kemampuan yang berkomunikasi, berargu mentasi, bertingkah laku sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di rumah dan masyarakat.
c. Bidang Bimbingan Belajar adalah bidang bimbingan yang meliputi pemantapan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif, penguasaan materi, program belajar di sekolah sesuai dengan kondisi psikis, sosial budaya yang ada dimasyarakatnya.
d. Bidang Bimbingan Karier adalah bidang bimbingan yang meliputi pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan dan dipilih.
Strategi Layanan Konseling dan Kegiatan Pendukung
0. Layanan konseling meliputi :
Layanan Orientasi : layanan yang memungkinkan siswa memahami lingkunagan baru, terutama lingkungan sekolah, objek-objek yang dipelajari untuk mempermudah dan memperlancarkan peran siswa
Layanan Informasi : Merupakan yang memungkinkan siswa menerima, memahami, berbagai informasi.
Layanan Penempatan dan Penyaluran : Merupakan layanan memungkinkanm siswa memper- oleh penempatan yang tepat.
Layanan Penguasaan Konten: Merupakan layanan yang memungkinkan siswa mengembangkan sikap dan kebiasaan yang baik dalam menguasai materi yang cocok dengan kecepatan, dan kemampuan dirinya.
Layanan Konseling perorangan : Merupakan layanan yang memungkinkan siswa mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan.
Layanan Bimbingan Kelompok : Merupakan layanan yang memungkinkan sejumlah siswa secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas topik tertentu.
Layanan Konseling Kelompok : Merupakan layanan memungkinkan siswa masing-masing anggota kelompok memperoleh kesempatan untuk membahas dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok.
Layanan Konsultasi: Merupakan layanan yang memungkinkan seseorang memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau permasalahan orang lain yang menjadi kepeduliannya.
Layanan Mediasi:Merupakan layanan yang memungkinkan fihak-fihak yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan kecocokan menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan mereka.
1. Kegiatan Pendukung meliputi:
Aplikasi Instrumentasi: Merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan siswa
Himpunan data: Merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan pengembangan siswa.
Konferensi kasus: Merupakan kegiatan untuk membahas permasalah siswa dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberi keterangan. Pada kegiatan pendukung ini kasus bersifat terbatas dan tertutup.
Alih Tangan Kasus: Merupakan kegiatan pendukung untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas masalah yang dialami siswa dengan memindahkan penangan kasus.
Kunjungan rumah: Merupakan kegiatan memperoleh data keterangan, kemudahan dan kemitraan bagi terentaskannya permasalahan siswa.
Tampilan Kepustakaan: Merupakan kegiatan dengan menyediakan berbagai media informasi.
Pengembangan Diri
0. Pengembangan Diri Dalam Pelayanan Bimbingan Dan Konseling
Pelayanan Dasar
Bimbingan Klasikal
Pelayanan Orientasi
Pelayanan Informasi
Bimbingan Kelompok
Pelayanan Pengumpulan Data/ Aplikasi Instrumentasi
Pelayanan Responsip
Konseling Individu dan Kelompok
Referal /Alih tangan
Kolaborasi dengan guru mata pelajar an atau wali kelas.
Kolaborasi dengan Orang Tua Siswa
Kolaborasi dengan Fihak-pihak terkait diluar sekolah
Konsultasi
Konferensi Kasus
Kunjungan Rumah
Pelayanan Perencanaan Individual/Pribadi
Konseling Individual
Penempatan Penyaluran
Dukungan Sistem
Manajemen
Akses Informasi dan Teknologi
Pengembangan Profesi
Pengembangan Media Informasi
Kolaborasi Dengan Guru Mata Pelajaran dan/atau Wali Kelas
1. Pelayanan Pengembangan Diri Oleh Pembina Ekstra Kurikuler
Basket
Sepakbola
Tenis Meja
Bulu tangkis
Teater
Seni Tari
Seni Baca Alquran
Taekwondo
Karate
Paduan Suara
P M R
Pleton Inti Kartika
Dll.